Berita Pekerjakan 20 Karyawan, Nabila Jaya Produksi Tebokan dan Pangkringan Lovebird



Posted on: 07 Mar 2018 Oleh Web Admin

BOYOLALI – Siapa yang tidak kenal dengan burung peliharaan cantik ini. Burung yang dikenal dengan sebutan lovebird kini telah memiliki penggemar tersendiri. Sebagai pecinta burung imut dengan ciri khas tubuh berwarna-warni ini pastinya akan memanjakan keperluan dan kebutuhannya. Selain kebutuhan makanan, kesehatan juga perlu diperhatikan tepat hunian yang menjadikan burung ini semakin menarik. Kelengkapan sangkar burung dan aksesorisnya sudah wajib tersedia. Saat ini para pecinta burung lovebird sudah bisa memilih aneka macam dan jenis sangkar dijual di pasaran. Bahkan di Boyolali sendiri terdapat pengrajin yang memproduksi tebokan sangkar burung dan pangkringan[tangkringan/tenggeran] burung cinta tersebut.

Ternyata usaha terebut dilakoni Hadi Mulyono, salah satu warga Desa Giriroto; Kecamatan Ngemplak sejak tahun 1980an silam. Produknya saat ini mengikuti tren dengan menyediakan keperluan untuk burung lovebird. Produk dengan label merk Nabila Jaya ini ternyata telah menembus berbagai wilayah di Indonesia.

“Produk biasa Nabila Jaya mengirim ke Sumatra dan kota besar di Jawa seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Solo dan wilayah lain,” terang Hadi di rumahnya yang disulap menjadi tempat produksinya pada Rabu (7/3).

Usaha yang berlokasi di Dukuh Gumukrejo ini saat ini telah diturunkan kepada anaknya. Produk andalan dari usahanya menurut Hadi berupa tebokan sangkar burung dan pangkringan burung yang dikerjakan karyawannya yang berjumlah 20 orang.

Pangkringan dibuat dengan bahan baku limbah kayu yang diperoleh dari berbagai pabrik atau tempat usaha kayu. “Limbah kayu biasanya jati dan mahoni diambil dari dari wilayah Blora sekali ambil satu rit 1 dengan harga Rp 100 juta,” imbuh Hadi.

Dikerjakan oleh karyawannya, pangkringan mampu memproduksi 1000 buah dalam satu minggu secara manual. Hanya proses awal pembentukan pangkringan dari bahan mentah yang menggunakan mesin bubut. Terkadang proses pekerjaan dikerjakan di rumah masing-masing yang masing bertetanggaan dengan Hadi Mulyono.

Selanjutnya untuk pemasaran dijelaskan yang mengambil hampir semuanya supplier (pemasok). Dalam satu pak pangkringan terdapat 10 batang yang dijual dengan harga bervariasi antara Rp 50 hingga 60 ribu tergantung jenis dan detil produk.

“Dalam satu minggu diambil dengan truk maupun colt tergantung cuaca panas,” jelasnya.

Dijelaskan bahwa proses yang memakan waktu lama yakni proses penjemuran yang mengunakan sinar matahari untuk pengeringan karena belum dimilikinya mesin pengering atau oven.

“Jika tidak ada panas sinar matahari, produk menjadi mrempul [menggelembung] karena belum punya alat oven untuk pengeringan,” tandasnya. (mjk/dst)

Berita

Pengumuman

Link SKPD